Teladan, Kematian, Kemerdekaan
Mgr.
Soegijapranata, mungkin hampir semua orang pasti tahu siapa yang dimaksud,
beliau adalah pahlawan nasional yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri
Tunggal Semarang. Beliau bukan hanya seorang pahlawan, namun beliau juga
merupakan Uskup Pribumi pertama di Indonesia.
Beliau
merupakan sosok yang sederhana, dan tertunya banyak orang segan dengan beliau.
Pembawaan wibawa nya yang tinggi pun seringkali membuat banyak orang terkesima.
Saya sangat menyukai sifat rendah hati yang beliau miliki. Meskipun beliau
orang yang terpandang, beliau tidak pernah meluapakn kalangan di bawahnya.
Beliau selalu “menunduk” ke bawah, untuk mengerti dan memahami bahwa masih
banyak orang yang butuh dibantu.
Beliau
juga sosok yang tegas, dan saya mengagumi sifat tegas tersebut. Beliau tidak
memandang bulu, beliau bergaul dan diterima di berbagai kalangan. Tidak hanya
dalam hal bergaul beliau tidak pandang bulu, namun dalam ketegasan beliau tidak
pandang bulu juga. Sifat tegas tanpa basa-basi merupakan sifat yang saya ingin
contoh, karena praktis dan tidak perlu basa-basi
Selain
itu, beliau memberikan teladan bagi kita untuk menghargai sesama, baik sesama
yang satu agama maupun beda agama, baik sesama yang satu bangsa maupun beda
bangsa. Karena menurut beliau “kemanusiaan itu satu, kendati berbeda-beda”.
Beliau menekankan bahwa kita sebenarnya satu dan sama, tidak berbeda sama
sekali. Hal menghargai sesama tersebut dapat kita contoh untuk di
implementasikan dalam kehidupan kita kelak.
Hidup
dan mati, adalah misteri ilahi yang tidak satupun manusia tahu mengenai hal
tersebut. Seringkali kita mendengar kata “kematian” selalu berkonotasi negatif,
dan cenderung “kematian” adalah sesuatu yang sangat ditakuti. Namun dalam
kenyataannya, tidak satupun dari kita tahu bagaimana rasanya kematian itu.
Menurut saya, saya tidak takut akan kematian, karena cepat atau lambat kematian
akan selalu menjemput kita. Sama seperti sebuah perjumpaan yang akan selalu ada
perpisahan. Kematian bagi saya adalah sesuatu yang akan kita lalui, yang saya
tekankan adalah saya yakin bahwa kita saat meeninggal, pasti kita sudah
disiapkan tempat oleh Sang Pnecipta, entah tempat yang seperti apa, tak satupun
dari kita tahu. Jadi dalam memandang kematian, saya hanya beranggapan bahwa
kematian adalah sebuah proses kita untuk naik ke level yang ebih tinggi diatas
kita. Kita tetap hidup, memang raga kita mati, namun jiwa kita akan tetap
hidup. Karena ketika kita mati, kita hanya akan hidup di lain tempat. Tidak
perlu takut, karena mati bukanlah sebuah “momok” yang perlu ditakuti, namun
kematian adalah kewajiban kita untuk menaikan “level” jiwa kita.
Kemerdekaan,
sesuatu yang kita gambarkan dengan kata kebebasan. Bebas dan merdeka sangat
dekat dalam pengartiannya. Namun sebenarnya ketika kita bebas, belum tentu
merdeka. Berbeda ketika kita telah merdeka, ketika kita merdeka, sudah pasti
kita juga bebas. Jadi bila kita saat ini sudah merasa bebas, silahkan kita cek
kembali apakah kita telah merdeka atau hanya sebatas bebas. Merdeka adalah
kebebasan yang sepenuhnya, ketika kita bisa memutuskan sesuatu perkara tanpa
tekanan, memilih sesuatu tanpa godaan, memilih style kita sendiri tanpa pengaruh orang lain, dan jadi diri kita
tanpa membingungkan apa yang dipikirkan orang lain. Itu adalah sebagian kecil
contoh dari kemerdekaan penuh. Terkadang kita dibebaskan memilih apa saja,
namun masiih ada bayag-bayang orang lain dalam proses pemilihan kita. Itulah
yang disebut kebebasan semu, yang telah mencapai bebas, namun tidak merdeka.
Semua orang mempunyai hak untuk merdeka, namun tidak semua orang berhasil
memerdekakan dirinya sendiri.

Good artikel.
BalasHapusGood artikel.
BalasHapusSangat bermanfaat. Good artikel kakak!!! Terus berkaryaaaaa-
BalasHapus