Antara Ada dan Tiada?

18.54 rosario berlian 1 Comments

Siapakah diri kita?
Untuk apa kita ada di dunia ini?
Dan apa yang akan kita lakukan dalam dunia ini?
Banyak pertanyaan yang akan muncul bila kita mengulas tentang apalah arti kehidupan kita. Banyak versi jawaban juga yang akan muncul bila kita berusaha mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Manusia lahir, hidup, dan meninggal. Ketiga hal tersebut adalah garis besar kegiatan yang akan kita jalani hari lepas hari selama kirta hidup di dunia ini. Namun apakah hanya dari garis besar itu saja yang akan kita lakukan?
Manusia hidup dengan segala kesempurnaannya yang merupakan ciptaan paling sempurna yang terlah diciptakan oleh Sang Pencipta. Dalam pokok bahasan awal ini, kita harus mengetahui tentang apa arti sebuah kehidupan itu sendiri. Kita wajib tahu makna dari kehidupan itu sendiri. Apakah hidup sekedar dijalani seperti air yang mengalir atau kita hidup dijalani dengan opsi-opsi lainnya?
Lahir,
Adalah sebuah anugerah dari Sang Pencipta yang menunjukan bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang berhasil dan terlahir sebagai pribadi yang pemenang. Kelahiran adalah sesuatu yang menandakan munculnya satu lagi pribadi yang hidup untuk membawa sebuah tujuan dari Sang Pencipta. Tiap pribadi yang terlahir adalah pribadi yang unik. Sekalipun pribadi itu kembar identik, pasti memiliki sesuatu yang unik dan beda dari yang lainnya.
Dalam tahap kelahiranpun kita bisa mulai merasakan awal dari dinamika kehidupan yang akan kita jalani. Marilah kita menengok kanan dan kiri kita, pehatikan sekeliling kita. Tidak semua yang terlahir di dunia ini, diciptakan oleh Sang Pencipta seperti pribadi yang sempurna, tidak memiliki cacat baik fisik maupun sikis. Namun realitanya adalah ketika kelahiran yang telah dinanti terkadang membuahkan pribadi yang tidak sempurna bagi mata manusia. Entah tidak sepurna secara fisik, atau tidak sempurna secara sikis.
Jadi apa maksud Sang Pencipta? Kenapa tidak semua pribadi yang terlahir diciptakan secara sempurna saja? Dimanakah letak keadilan Sang Pencipta yang katanya Dia adalah Maha Adil?
Hidup,
Adalah tahap selanjutnya, tahap yang lebih banyak dinamika yang akan kita hadapi sebagai pribadi yang utuh. Dalam menjalani hidup sering kali kita hanya mengikuti arus yang ada. Sampai akhirnya kita entah terbawa arus sampai kemanapun kita tak sadar. Dan apabila kita terbawa ke arus yang tidak enak dan membuat diri kita sengsara, kita akan secara otomatis menyalahkan Sang Pencipta dan sering kali kita akan menanyakan mengenani kebenaran keberadaan Sang Pencipta. Namun apabila kita dibawa arus yang nyaman, tentu dan hampir pasti kita tidak akan menanyakan keberadaan Sang Pencipta, bahkan menyapaNya saja sangat jarang. Itulah manusia, yang sering lupa siapa dirinya.
Kehidupan manusia tidak hanya sebatas mengikuti alur atau tidak mengikuti alur, namun masih banyak dinamika yang akan kita jalani selama masa hidup kita. Dalam menjalani dinamika tersebut, makin terwujud banyak pikiran mengenai misteri kehidupan. Untuk apa kita hidup, dan akan seperti apa bila hidup kita berakhir. Pikiran manusia yang sempit akan berpikir bagaimana ia hidup sejahtera. Fokus yang akan dipikirkannya adalah aku, aku, dan aku saja. Dan tentu saja ketika hidup terasa pahit bagi dirinya, Sang Pencipta akan dicari kembali, bahkan tidak hanya dicari namun dihujat juga. Menuntut dimanakah Dia berada, dan dimana relaita janji-janjiNya.
Manusia tidak pernah merasa puas mengenai dirinya, dan akan selalu menyalahkan Sang Pencipta. Hidup manusia sebenarnya bergantung pada dirinya atau bergantung pada Sang Pencipta? Bila bergantung pada dirinya, mengapa kita menyembah dan memuji Sang Pencipta? Dan apabila hidup tergantung padaNya, mengapa kesejahteraan manusia tidak merata? Kemiskinan secara global dan kekayaan hanya terjadi di kalangan tertentu? Bila realita yang terjadi seperti ini untuk apa kita masih bergantung padaNya?
Meninggal,
Adalah tahap dimana tidak ada seorang manusia yang ingin mengalaminya bila bisa untuk memilih tidak menjalani tahap ini. Dalam tahap ini, tahap yang sangat ditakuti manusia. Tahap dimana kesadaran manusia menjadi naik dan berbalik 180⁰.
Mengapa manusia bisa seketika menjadi berbalik segalanya? Mengapa sebuah kematian menjadi “momok” yang menakutkan bagi diri manusia? Mengapa kita harus hidup hanya untuk menyembanNya dan pada akhirnya tetap saja meninggal? Mengapa bila kita hidup tanpa menyembahNya, banyak yang mengatakan kita tidak akan selamat pada akhhir nanti?
Jadi siapakah sosok Sang Pencipta sebenarnya? Apakah Dia jahat ataukah sebaliknya? Apakah Dia benar-benar ada atau hanya sekedar proyeksi ketakutan manusia?
Stay tune on this blog to get the answer!






You Might Also Like

1 komentar:

  1. artikel anda sangat menginspirasi sekali rio, memang benar materi yang anda tuliskan, semoga artikel anda bisa memberikan manfaat banyak terhadap pada pembaca :)

    BalasHapus