Antara Ada dan Tiada?
Siapakah diri kita?
Untuk apa kita ada di dunia ini?
Dan apa yang akan kita lakukan dalam dunia ini?
Banyak pertanyaan yang akan muncul
bila kita mengulas tentang apalah arti kehidupan kita. Banyak versi jawaban
juga yang akan muncul bila kita berusaha mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan
tersebut.
Manusia lahir, hidup, dan
meninggal. Ketiga hal tersebut adalah garis besar kegiatan yang akan kita
jalani hari lepas hari selama kirta hidup di dunia ini. Namun apakah hanya dari
garis besar itu saja yang akan kita lakukan?
Manusia hidup dengan segala
kesempurnaannya yang merupakan ciptaan paling sempurna yang terlah diciptakan
oleh Sang Pencipta. Dalam pokok bahasan awal ini, kita harus mengetahui tentang
apa arti sebuah kehidupan itu sendiri. Kita wajib tahu makna dari kehidupan itu
sendiri. Apakah hidup sekedar dijalani seperti air yang mengalir atau kita
hidup dijalani dengan opsi-opsi lainnya?
Lahir,
Adalah sebuah anugerah dari Sang
Pencipta yang menunjukan bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang berhasil dan
terlahir sebagai pribadi yang pemenang. Kelahiran adalah sesuatu yang
menandakan munculnya satu lagi pribadi yang hidup untuk membawa sebuah tujuan
dari Sang Pencipta. Tiap pribadi yang terlahir adalah pribadi yang unik.
Sekalipun pribadi itu kembar identik, pasti memiliki sesuatu yang unik dan beda
dari yang lainnya.
Dalam tahap kelahiranpun kita bisa
mulai merasakan awal dari dinamika kehidupan yang akan kita jalani. Marilah
kita menengok kanan dan kiri kita, pehatikan sekeliling kita. Tidak semua yang
terlahir di dunia ini, diciptakan oleh Sang Pencipta seperti pribadi yang
sempurna, tidak memiliki cacat baik fisik maupun sikis. Namun realitanya adalah
ketika kelahiran yang telah dinanti terkadang membuahkan pribadi yang tidak
sempurna bagi mata manusia. Entah tidak sepurna secara fisik, atau tidak
sempurna secara sikis.
Jadi apa maksud Sang Pencipta?
Kenapa tidak semua pribadi yang terlahir diciptakan secara sempurna saja?
Dimanakah letak keadilan Sang Pencipta yang katanya Dia adalah Maha Adil?
Hidup,
Adalah tahap selanjutnya, tahap
yang lebih banyak dinamika yang akan kita hadapi sebagai pribadi yang utuh.
Dalam menjalani hidup sering kali kita hanya mengikuti arus yang ada. Sampai
akhirnya kita entah terbawa arus sampai kemanapun kita tak sadar. Dan apabila
kita terbawa ke arus yang tidak enak dan membuat diri kita sengsara, kita akan
secara otomatis menyalahkan Sang Pencipta dan sering kali kita akan menanyakan
mengenani kebenaran keberadaan Sang Pencipta. Namun apabila kita dibawa arus
yang nyaman, tentu dan hampir pasti kita tidak akan menanyakan keberadaan Sang
Pencipta, bahkan menyapaNya saja sangat jarang. Itulah manusia, yang sering
lupa siapa dirinya.
Kehidupan manusia tidak hanya
sebatas mengikuti alur atau tidak mengikuti alur, namun masih banyak dinamika
yang akan kita jalani selama masa hidup kita. Dalam menjalani dinamika
tersebut, makin terwujud banyak pikiran mengenai misteri kehidupan. Untuk apa
kita hidup, dan akan seperti apa bila hidup kita berakhir. Pikiran manusia yang
sempit akan berpikir bagaimana ia hidup sejahtera. Fokus yang akan
dipikirkannya adalah aku, aku, dan aku saja. Dan tentu saja ketika hidup terasa
pahit bagi dirinya, Sang Pencipta akan dicari kembali, bahkan tidak hanya
dicari namun dihujat juga. Menuntut dimanakah Dia berada, dan dimana relaita
janji-janjiNya.
Manusia tidak pernah merasa puas
mengenai dirinya, dan akan selalu menyalahkan Sang Pencipta. Hidup manusia
sebenarnya bergantung pada dirinya atau bergantung pada Sang Pencipta? Bila
bergantung pada dirinya, mengapa kita menyembah dan memuji Sang Pencipta? Dan
apabila hidup tergantung padaNya, mengapa kesejahteraan manusia tidak merata?
Kemiskinan secara global dan kekayaan hanya terjadi di kalangan tertentu? Bila
realita yang terjadi seperti ini untuk apa kita masih bergantung padaNya?
Meninggal,
Adalah tahap dimana tidak ada
seorang manusia yang ingin mengalaminya bila bisa untuk memilih tidak menjalani
tahap ini. Dalam tahap ini, tahap yang sangat ditakuti manusia. Tahap dimana
kesadaran manusia menjadi naik dan berbalik 180⁰.
Mengapa manusia bisa seketika
menjadi berbalik segalanya? Mengapa sebuah kematian menjadi “momok” yang
menakutkan bagi diri manusia? Mengapa kita harus hidup hanya untuk menyembanNya
dan pada akhirnya tetap saja meninggal? Mengapa bila kita hidup tanpa
menyembahNya, banyak yang mengatakan kita tidak akan selamat pada akhhir nanti?
Jadi siapakah sosok Sang Pencipta
sebenarnya? Apakah Dia jahat ataukah sebaliknya? Apakah Dia benar-benar ada
atau hanya sekedar proyeksi ketakutan manusia?
Stay tune on this blog to get the
answer!

artikel anda sangat menginspirasi sekali rio, memang benar materi yang anda tuliskan, semoga artikel anda bisa memberikan manfaat banyak terhadap pada pembaca :)
BalasHapus